Jumat, 29 Mei 2020

Chapter 1 - Terhubung

Aku mendorong tempatnya berbaring. Ia tak terlihat sama sekali dalam keadaan kesakitan. Ia tertidur, lemah, menutup mata, terdiam. Bukan seperti layaknya orang yang didorong menuju ruang operasi. Ia kudorong dibalik tabung kaca. Batasku dengannya hanya sebuah tabung kaca tebal. Dibandingkan dengan tabung kaca, aku merasa itu seperti sebuah keranda. Melihat wajahnya yang terdiam, aku pun mulai memutuskan.

***

Seorang wanita baru turun dari bandara Soekarno-Hatta. Perawakannya kurus, kulit sawo matang, berjilbab mengulur, dan berkaca mata. Tas ransel terpasang dipunggungnya. Ia berjalan penuh percaya diri. Melintasi jalan tanpa ragu seakan sudah sering berlalu-lalang di tempat itu. Di sisi lain, terlihat keluarga-keluarga kecil mengikuti dari belakang. Ada yang menggendong anaknya, ada yang menggandeng istrinya atau bersenda gurau dengan pasangannya. Ia terlihat cuek.  

***

Gedung menara sebanyak 35 lantai menjulang di Jalan Thamrin. Acara akan berpusat di ballroom lantai tiga. Ballroom yang sungguh luas dan dapat menampung lebih dari dua ribu peserta. Gedung ini memang baru tiga bulan yang lalu diresmikan. Direncanakan akan menjadi hotel sekaligus gedung perkantoran dan mall. Desainnya sangat modern, namun karena harga promo, maka acara diadakan di gedung ini. Dengan desain yang penuh ruangan, wajar jika cctv berada di seluruh gedung tak terkecuali.

Gedung Marion menitikberatkan pada penyewaan ruangan, maka hari itu banyak sekali kegiatan yang ada. Ada seminar start up yang pengunjungnya lebih banyak anak muda dan pengusaha muda. Ada acara resepsi pernikahan. Ada acara pertemuan diaspora atau orang-orang Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri. Ada acara dari instansi pemerintah, seperti yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik. Ada juga kegiatan dari kementrian keuangan. Pada hari itu, gedung terlihat ramai oleh peserta dari berbagai macam latar belakang. Di lantai bawah atau loby, terdapat ruangan untuk pameran galeri yang sedang diselenggarakan oleh salah satu pekerja seni terkenal.

Ramai terlihat dari lobby pagi itu. Resepsionis sibuk melayani pengunjung dan mengarahkan lokasi yang mereka tuju.

Saat itu aku pun baru tiba. Karena gedung ini baru ku kunjungi, aku langsung menuju resepsionis untuk bertanya. Di meja resepsionis, seorang wanita telah berdiri lebih dulu.

“Ooo... terima kasih mbak,” jawab wanita itu. Sepertinya ia sama denganku. Sama-sama menanyakan lokasi ruangan. Ia masih berdiri, sambil sibuk dengan ponselnya.

Pandangan resepsionis telah beralih padaku.

“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?”

“Saya peserta dari diaspora, kalau ruangan oscar room di sebelah mana?”

“Bapak naik lift ke lantai 3, nanti ada penunjuk arah menuju oscar room”

“Oke, terima kasih”

“sama-sama”

Aku beranjak menuju lift. Kulihat wanita tadi ikut pula mengantri dan menunggu lift.

Lift menunjukkan lantai 3. Kami keluar bersamaan.

ID card-nya tertulis Risandra.

***


Minggu, 08 September 2019

Live Must Go On

"Benar, mungkin yang perlu kita pahami adalah hidup ini bukan milik pribadimu sendiri. Aku akan menyadari sisa hidup tak akan ada yang tahu, dan ketika itu apa yang bisa kita lakukan hanya meneruskan hidup. Meneruskan hidup dengan penuh arti, bersama dengan orang-orang yang berada disisi kita atau yang mendukung kita."

Sama seperti kebanyakan pasien di rumah sakit, dimana keadaan biasa bagi orang lain belum tentu menjadi keadaan biasa baginya. Mendengar bagi kita adalah hal yang lumrah, tetapi bagi orang yang mengalami gangguan pendengaran, dapat mendengar tanpa kendala adalah hal yang sungguh begitu berarti dan membahagiakan baginya. Sangat sederhana, bukan? Lalu apakah karena diibaratkan seperti orang yang sakit, kita pun mengalami gangguan karena belum mencapainya? Bukan. bukan itu arah pembicaraannya. Karena diri kita tak ada yang sempurna. Tahapan kita bukan diukur dari apa yang telah kita capai. Tapi sejauh apa kita dapat mengatasi kendala yang kita hadapi. Masing-masing kita memiliki bom atom tersendiri, disematkan bahkan sebelum kita dilahirkan. Iya, masing-masing kita. Yang sakit diberikan gangguan kesehatan, dan yang sehat diberikan gangguan kehidupan lainnya. Tak ada yang dapat lepas. kecuali setelah kematian. Dimana pada waktu itu semua rapor akan dibukakan, Termasuk rapor bagaimana diri ini menjalani kehidupan dengan amanah kendala yang telah dititipkan. Karena itu, hal seperti menganggap masalah orang sepele sementara dirimu sendiri baru hanya melihat kulit luarnya saja tanpa pernah menjadi diri orang itu dari semenjak ia dilahirkan, maka cukup, tahan lidahmu untuk mengucapkan kata-kata yang meremehkan orang lain, mengomentari kehidupan orang lain. Jika tak bisa memberikan dukungan, sebaiknya diam. Itu lebih membantu dibandingkan kau melontarkan sampah-sampah yang keluar dari mulutmu, yang jelas-jelas  menunjukkan posisi dan kualitas dirimu. Manusia adalah letak kesalahan dan kealpaan, benar, itu benar, tetapi manusia pula merupakan makhluk yang dapat belajar. Belajar untuk dapat berempati. Bukan malah menyakiti.

Kamis, 10 Mei 2018

Episode 1 - Perkenalan Awal


Seperti biasa, aku bertemu dengannya di persimpangan jalan setapak itu. Pada hari yang sama, jam dan menit yang sama. Setiap pekan selalu berulang. Aku yang cuek tanpa make up hanya berbekal lipbalm, sneakers, baju kaos panjang, rok tipe A, dan tas ransel yang selalu setia menemani. Tak tahu bagaimana cara melukis alis, memasang maskara, dan memoles berbagai tipe lapisan di wajah. Berbeda dengannya, yang selalu tampak rapi dan klinis. Pagi itu, kami pun berpapasan.
Aku yang setiap pagi harus membuka bookstore kecil-kecilan yang kubangun dari hasil menabung sejak kecil, dapat menyewa 64 meter per segi ruangan yang ku sulap menjadi toko buku. Tak perlu banyak pekerja. Cukup satu orang anak lulusan SMK yang kupekerjaan paruh waktu sebagai tambahan biaya hidupnya untuk melanjutkan kuliah.

Siapa yang akan menyangka aku menjadi pengelolanya. Jika tampilanku seperti nerd mahasiswa. Padahal umur tak lagi pantas disebut mahasiswa bahkan fresh graduate.
Temanku yang seorang dosen datang setiap sore itu, menyapaku. sambil memilih buku yang ingin ia baca.

"Ada cafe yang akan dibangun di sebelah" sapanya sambil menghampiriku.
"Oh, ya?" Jawabku singkat tak tertarik.
"Kau tahu pemiliknya?"
"Tidak."
"Pemiliknya salah seorang dosen satu universitas denganku."
"Lalu?"
"Aku ingin mendekatinya. Bisakah aku magang di Bookstore-mu?"
"Tidak."
"Rena... please.."
"Tidak. Aku tidak ingin menurunkan image tokoku."
"Heh... Aku akan membuat tokomu menjadi semakin laris."
"Gag.. Aku gag butuh." Jawabku ketus.
"Ayolah...Aaa kau ingin aku diejek terus oleh mahasiswaku karena terus menjadi dosen jomlo abadi."
"Bukan masalahku."
"Ayolah, Na... Ia akan menyebar brosur ke sekitar sebagai ajang promosi. Jadi, pastinya ia akan datang ke tokomu. Ayolah..."
"Hhhhh......... Hari jumat, gantikan aku hari jumat. Selain hari itu, aku tidak mau."
"Baiklah... Siap, bos.. Terima kasih.."

Kenapa harus hari jumat? karena setiap hari jumat, aku mengisi di panti asuhan sebelas. sebagai relawan. 

6 bulan kemudian, aku mendengar kabar, mereka akan menikah. Sebuah undangan bertengger manis di mejaku. Ada rasa malas untuk pergi, tetapi wajib untuk didatangi.
Akhirnya resepsi hari sabtu itu pun ku datangi. Berbekal polesan bedak dan liptin agar wajah tak terlihat kusam. Ku istirahatkan tas ranselku, dan mengambil sling bag yang entah kapan terakhir kali kupakai.

Aku akhirnya pergi ke sana. Sebuah resepsi yang bernuansa melayu. Mataku hanya mengembara di tengah hiruk pikuk para tamu yang tak ada ku kenal, selain mempelai perempuannya. Dan melihat orang itu lagi. Ia datang ke pesta ini juga. Ah, mungkin dari pihak pengantin pria. pikirku singkat. Selesai menyantap makanan dan menikmati kesan meriahnya resepsi, akhirnya aku beranjak pamit dengan tanpa melupakan untuk memberi selamat kepada kedua mempelai. Tak ku sangka ia ada di depanku bersama dengan teman-temanya. bersalaman dan hendak berfoto bersama. Ayu, temanku. menarik lenganku dan aku pun menyelinap diantara foto mereka. Setelah itu, aku pun ingin segera pergi dari sini.

"Hans, masih ingat Rena? Pemilik bookstore di sebelah cafe-mu."
"Oiya? kita bertetanggaan."
"Kita sering berpapasan, bukan?' Sapa orang yang di sebelah mempelai pria.
"Ah, Iya." Jawabku singkat.

Perkenalan yang tak pernah kubayangkan akan menjadi awal dari perjalanan panjang diriku. Hidupku sejak awal selau flat. Tapi, aku tak pernah komplain atas ke-flat-an. Aku hanya sudah biasa menjalaninya, tanpa ingin melihat kiri-kananku menggunakan ponsel apa, make up apa, brand apa, atau aktivitas trending apa. Aku hanya ingin menikmati hidupku dengan tenang tanpa harus pusing dengan cibiran orang yang bahagia mengisi hidupnya dengan mencibir kehidupan orang lain. Tetapi, perkenalan singkat itu, tak kusangka akan membuka gerbang lain dalam hidupku. Jangan berpikir tentang percintaan, karena ini bukan tentang percintaan.

-Bersambung -

Kamis, 26 April 2018

Penghargaan bagi Karyawan



Penghargaan. Terkadang yang dibutuhkan oleh seorang karyawan bukanlah sebuah piagam atau sanjungan yang selalu dielu-elukan. Tetapi, hanya perlu dihargai. Hargai waktu yang dihabiskan, hargai peluh yang diperjuangan, hargai hasil yang kami peroleh. Walau mungkin hasil itu ada saja kekurangannya. Tetapi bukan berarti setitik kekeliruan langsung menguapkan banyaknya prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

Apa Iya. "Apa iya" yang merupakan ungkapan keraguan dan kecurigaan. Mungkin bisa diganti dengan kata yang lebih bijak, lebih hangat yang tidak terkesan menghakimi. Layaknya seperti program parenting yang tidak menyarankan orang tua untuk berkata "jangan", maka seorang leader semestinya juga dapat memilih padanan kata yang lebih baik. Bisa menggunakan, "coba dikonfirmasi kembali", "coba ditelaah kembali", "coba dievaluasi kembali". Maka karyawan akan lebih merasa tergerak bukan tertindas.

Penghargaan. Tak butuh bonus berlipat atau naiknya tunjangan bertingkat-tingkat. Cukup dengan memberikan hak mereka, tak menghambat pengembangan diri mereka, dan memberikan ruang untuk mereka dapat memperbarui energi diri. Bukan malah dicecoki terus-menerus. Merasa itulah cara terbaik untuk menghasilkan output yang baik. Padahal, rumput takkan tumbuh menghijau jika tanah dan air yang diberikan penuh tak beruang.

Ego. ku namakan itu seperti sebuah penyakit. Takut pekerjaan tak selesai. Khawatir tak ada yang dapat menangani. Risau tak ada yang dapat menggantikan. Akhirnya karyawan dikekang, diikat dengan borgol tak terlihat. Hanya memikirkan diri sendiri yang selamat. Sampai akhirnya, yang dibawah menjadi tumpu untuk meloncat ke setiap tingkat. Dan ketika ego menguasai, maka leader tak akan pernah bisa menjadi leader. Tetapi hanya akan melahirkan kerakusan yang tak akan mengerti derita bawahan.




Minggu, 01 April 2018

Skenario yang Berbeda


Ketika pertama kali mengambil gambar ini, aku merasa ada yang dapat dipetik dari scene ini. Kuminta temanku untuk berdiri dan mengambil gambar mercusuar, sementara aku mengambil gambarnya.

Ada makna yang ingin kujelaskan dari petikan skenario ini. Tak ayal seperti ketika kau pertama kali merasakan cita-cita seperti sebuah mercusuar yang akan tetap terlihat kemanapun engkau berjalan menyusuri pulau kecil itu. Aku ingin mengatakan, sesuatu yang kau lihat tinggi, belum tentu sebenarnya itu tinggi. Sesuatu yang kau lihat jauh, belum tentu itu memang jauh. Sesuatu yang kau lihat sebagai beban, belum tentu itu adalah beban, siapa tahu sebenarnya itu adalah tantangan.

Ketika banyak kolegaku yang berlomba menulis di koran, aku lebih memilih untuk menulis novel. Ketika orang berbondong-bondong menuju lokasi wisata, berswafoto mengabadikan setiap moment dan lokasi, aku lebih memilih memotret dengan mataku. Menyimpan ponsel, mengamati dan mengabadikan dengan inderaku, dan bercengkrama dengan penduduk lokal. Ketika banyak orang sibuk mempublish setiap aktivitasnya di sosial media, aku lebih memilih berinteraksi di dunia sesungguhnya.
Melihat dari sudut pandang yang berbeda, mengamati dari sisi lain, terkadang dengan begitu, banyak hal yang bisa kita tangkap. Yang mungkin sebagian dari kita tak menyadari.

Sama seperti skenario foto ini. Jauh lebih hidup dan indah, ketika kita dapat mengabadikan dari sisi yang lain. Karena hidup setiap orang tak harus sama. Tak harus mengalami hal yang sama, mencapai hal yang sama, walau nantinya kita berakhir di tempat yang sama. Namun, jalur, jarak, pilihan, dan keputusan, itulah yang membuat diri kita unik dan bernilai beda.


Sabtu, 23 April 2016

Goresan Profesi


Apakah passionmu? keahlian yang sudah kau dapatkan?  bakatmu? atau hanya alat penghasil uang untuk kebutuhan hidupmu?

Ironi, jika niatmu untuk berprofesi sudah disebutkan di atas, maka profesimu akan sirna seiring dengan hilangnya passion, keahlian, bakat, atau pekerjaanmu.
Sewaktu kecil, aku menganggap profesi adalah hal yang sangat ideal. Namun, selama berjalannya waktu, bertambahnya usia, bertambahnya pengetahuan, dan bertambahnya urusan yang perlu dipertimbangkan, maka profesi menjadi suatu hal yang bukan lagi ideal. Banyak kepentingan yang bermain. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan. Profesi berangsur-angsur hanya menjadi sebuah tameng untuk mengisi hidup.
Profesi yang semula memiliki definisi yang sangat sederhana, berangsur menjadi sulit untuk dideskripsikan. Alhasil, setelah berubah menjadi kompleks, aku pun berpikir, mengapa tidak kita kembalikan kembali ke bentuk idealnya. Namun, apakah masih tepat untuk digunakan di masa ini?

Dan akhirnya, solusinya hanya satu, kembalikan kepada Dzat yang menciptakan profesi. Kembalikan makna profesi seperti memang yang seharusnya. Saat itu, aku mengerti, bahwa makna profesi tak pernah berubah, tetapi kitalah yang telah berubah.  

Kamis, 24 Maret 2016

Tips for Backpackers, Travellers


I am not an expert backpacker, but I love traveling. Sometimes, my friends and I spend our free time to have traveled. Explore our lovely beautiful island or just visit another city. When we go travel, there are some goods that we have to prepare. This is one of my advice from you to bring in your backpack or your bag. Check this out :

1. Money. Do not miss your wallet. Although you have a debit or credit card, you should have cash savings. Do not put all of your cash into the wallet. Just put it in a separate place, at least you have 2 different spaces for your money. It will help you when something bad happens. Don't forget to save a little cash in your pocket.

2. Smartphone. This gadget can do anything for you. Do not forget to bring a power bank.

3. Mukena or sarung. If you are Muslimah or Muslim, you need this outfit for sholat (prayer). So, remember it.

4. Mineral Water. Snacks are additional, but water is a priority because our body contains 70 percent of water, don't mess you traveling because of dehydration or feeling thirsty.

5. Clothes. Do not bring many clothes. Estimate the time you have to spend to travel. Is it for one day, two days, three days, or for one week? So, you can adjust the number of clothes packed. Just one or two shirts and it is ok. Do not forget to bring underwear enough.

6. Camera. It is good to bring it to make a good photograph with your friends.

Sabtu, 12 Maret 2016

Become one memory




It has been more than two years. I still remember when we first met. You sit down on the couch, kept silent. your glance showed the emptiness. I just ignored what you felt. Straight forward myself to say hello to you. And you replied to me with a short answer. Keeping your sight straight. With a naif smile, I broke the ice air that you had built.

The time has gone. there was the time when we laugh together. We talked too much until we didn't realize about the dawn had come. When you cried a lot, I just sit beside you with no word. Just to calm you, I didn't need a word or a hug.

You always say that I am not an ordinary girl that need many excuses to solve the problem. I look like a guy that doesn't need a lot of explanation about something. having a few expressions and cold.  I have a lot of building in my heart that only a few persons can see it. Those are your thought about me. And I can say that you are right. You are a few people that concern about that. Many people just know me as limited that I show them.

But now... We are apart by the island. You are far away from your daily life in another world. I do too. I miss every moment we had. I always blame myself for why I could not express my feeling. But I didn't regret it. Because it is just our friendship to go on.  Just know that you are healthy, making a lot of friends, having a stable job, and have a lot of friends make me relief. I am grateful that Allah SWT sent you to make a beautiful memory in my life.

I hope you'll be successful in your life, reach your goal, and live happily.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Kepada Hafalanku

Silih bergantinya waktu dan rutinitas yang terus menerus bergulir memutar senja dan fajar yang terus bergantian. Tak terasa masa pun menampakkan ketuaannya.
Skeptisnya diriku sehingga hanya mempercayai dirimu bukan orang lain atau objek yang lain.
Dirimu yang akan menemaniku di kehidupanku yang berbeda kelak.
Engkau bukanlah sahabatku yang memiliki wajah rupawan, namun maknamu dapat membangun semangatku. lantunanmu dapat mengisi jiwaku...
Mendapatkanmu adalah hadiah terindah dalam hidupku...

Engkaulan hafalanku, sahabatku....
Kepada hafalanku... Bagaimana kabarmu? Masihkah kau berputar di hippocampus-ku.
Kepada hafalanku... Aku tidak memiliki amalan yang bisa dibanggakan selain dirimu.
Aku tidak bisa seperti saudara-saudara muslim yang sedang berjuang di Palestina atau Suriah
Aku bukan seorang ahli ibadah malam dan fajar
Aku bukan seorang soleha yang tinggal di rumah dan hanya bermunajat
Aku bukan seorang santri yang dapat terus bergelut dengan ilmu
Aku belum menjadi seorang istri yang bisa membanggakan kesolehannya
Aku pun belum bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti

Lalu... Apa yang bisa kuandalkan untuk dapat menghadap hari hisapku?
Lalu... Apa yang bisa kubanggakan di depan Sang Khalik?
Lalu... Apa yang bisa kupersembahkan sebagai umat Baginda Rasulullah Saw..
hanya kau yang bisa menemaniku, wahai hafalanku...
Tak banyak... Tak sampai 30 Juz. tetapi aku ingin kau tetap di prefrontal cortex-ku
Aku ingin kau berputar-putar di otakku dan tak pergi meninggalkanku.
Seperti sahabatku yang satu demi satu pergi karena kesibukannya..
Aku ingin kau tetap menemaniku hingga nyawa ini tak lagi bersatu dengan raga..

Hafalanku...
Tak bisa dielakkan, rutinitas sebagai perempuan bekerja memakan waktuku dan mengurangi waktuku untukmu...
Tak bisa dielakkan, kesukaanku terhadap manga dan anime juga mengikis waktuku untuk bergelut denganmu...
Tak bisa dielakkan, istirahatku yang berkecukupan menyedot waktuku untuk bersama denganmu..
Namun, kemana pun dan bagaimanapun diriku, satu hal yang selalu membuatku kembal kepangkuanmu, yaitu kerinduanku.
Kerinduanku untuk bermesra dengan ayat-ayat dari langit...
kerinduan lidahku yang basah dengan lantunan lembut yang menghangatkan hati...
Kerinduanku dengan majelis-majelis yang selalu membahas surat cinta dari-Nya...
Rindu itu selalu bisa membuat tangan dan kakiku bergerak sendiri meraih mushaf yang lusuh itu...
Memantapkan diriku untuk tetap kembali kepadamu.. hafalanku...

Kepada hafalanku... walau imanku sering naik-turun seperti impuls darah yang mengalir...
Namun, setipis-tipisnya... Serendah-rendahnya, aku tetap ingin dapat bersamamu.. bersamamu.. melantunkan setiap ayat cinta yang akan selalu menghangatkan hati... seperti fajar yang menghangatkan embun pagi...

Kepada hafalanku... Kurangkul engkau hingga lidah ini kelu, hingga pikiran ini berhenti, dan hingga mata ini tak bisa terbuka kembali...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...