Sabtu, 23 April 2016

Goresan Profesi


Apakah passionmu? keahlian yang sudah kau dapatkan?  bakatmu? atau hanya alat penghasil uang untuk kebutuhan hidupmu?

Ironi, jika niatmu untuk berprofesi sudah disebutkan di atas, maka profesimu akan sirna seiring dengan hilangnya passion, keahlian, bakat, atau pekerjaanmu.
Sewaktu kecil, aku menganggap profesi adalah hal yang sangat ideal. Namun, selama berjalannya waktu, bertambahnya usia, bertambahnya pengetahuan, dan bertambahnya urusan yang perlu dipertimbangkan, maka profesi menjadi suatu hal yang bukan lagi ideal. Banyak kepentingan yang bermain. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan. Profesi berangsur-angsur hanya menjadi sebuah tameng untuk mengisi hidup.
Profesi yang semula memiliki definisi yang sangat sederhana, berangsur menjadi sulit untuk dideskripsikan. Alhasil, setelah berubah menjadi kompleks, aku pun berpikir, mengapa tidak kita kembalikan kembali ke bentuk idealnya. Namun, apakah masih tepat untuk digunakan di masa ini?

Dan akhirnya, solusinya hanya satu, kembalikan kepada Dzat yang menciptakan profesi. Kembalikan makna profesi seperti memang yang seharusnya. Saat itu, aku mengerti, bahwa makna profesi tak pernah berubah, tetapi kitalah yang telah berubah.  

Kamis, 24 Maret 2016

Tips for Backpackers, Travellers


I am not an expert backpackers, but i love traveling. Sometimes, my friends and i spend our free time to have traveling. Explore our lovely beautiful island or just visit another city. When we go travel, there are some goods that we have to prepare. This is one of my advice from you to bring in your backpack or your bag. Check this out :

1. Money. Don't miss your wallet. Although you have debit or credit card, you should have cash saving. Don't put all of your cash into the wallet. Just put it in separate place, at least you have 2 different space for your money. It will help you when something bad happen. Don't forget to save little cash on your pocket.

2. Smartphone. This gadget can do anything for you. Don't forget to bring power bank.

3. Mukena or sarung. If you are muslimah or muslim, you need this outfit for sholat (prayer). So, don't forget it.

4. Mineral Water. Snacks is additional, but water is priority because our body contain 70 persen of water, don't mess you traveling because of dehidration or feeling thirsty.

5. Clothes. Don't bring many clothes. Estimate the time you have spend to traveling. is it for one day, two days, three days, or for one week to calculate how many you have to bring your clothes. just one or two t-shirt and it's ok. just don't forget to bring underwear enough.

6. Camera. It's good to bring it to make a good photograph with your friends.

Sabtu, 12 Maret 2016

Become one memory




It has been more than two years. I still remember when we first met. You sit down on the couch, kept silent. your glance showed the emptiness. I just ignored what you felt. Straight forward myself to say hello to you. And you replied me with short answer. Keeping your sight straight. With a naif smile, i broke the ice air that you had built.

The time has gone. there were the time when we laugh together. We talked to much until we didn't realized about the dawn had come. When you cried a lot, i just sit beside you with no word. Just to calm you, i didn't need a word or a hug.

You always say that i am not an ordinary girl that need many excuses to solve the problem. I look like a guy that doesn't need a lot explanation about something. having a few expression and cold.  I have a lot of building in my heart that only a few person can see it. Those are you thought about me. And i can say that you are right. You are a few people that concern about that. Many people just know me as limited that i show them.

But now... We are apart by the island. You are far away with your daily life in another world. I do too. I miss every moment we had. I always blame myself why i could not express my feeling. But i didn't regret it. Because it is just our friendship go on.  Just know that you are healthy, making a lot of friends, having stable job, and have a lot friendship make me relief. I am grateful that Allah SWT sent you to make a beautiful memory in my life.

Hope you'll be successful in your life, reach your goal, and live happily.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Kepada Hafalanku

Silih bergantinya waktu dan rutinitas yang terus menerus bergulir memutar senja dan fajar yang terus bergantian. Tak terasa masa pun menampakkan ketuaannya.
Skeptisnya diriku sehingga hanya mempercayai dirimu bukan orang lain atau objek yang lain.
Dirimu yang akan menemaniku di kehidupanku yang berbeda kelak.
Engkau bukanlah sahabatku yang memiliki wajah rupawan, namun maknamu dapat membangun semangatku. lantunanmu dapat mengisi jiwaku...
Mendapatkanmu adalah hadiah terindah dalam hidupku...

Engkaulan hafalanku, sahabatku....
Kepada hafalanku... Bagaimana kabarmu? Masihkah kau berputar di hippocampus-ku.
Kepada hafalanku... Aku tidak memiliki amalan yang bisa dibanggakan selain dirimu.
Aku tidak bisa seperti saudara-saudara muslim yang sedang berjuang di Palestina atau Suriah
Aku bukan seorang ahli ibadah malam dan fajar
Aku bukan seorang soleha yang tinggal di rumah dan hanya bermunajat
Aku bukan seorang santri yang dapat terus bergelut dengan ilmu
Aku belum menjadi seorang istri yang bisa membanggakan kesolehannya
Aku pun belum bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti

Lalu... Apa yang bisa kuandalkan untuk dapat menghadap hari hisapku?
Lalu... Apa yang bisa kubanggakan di depan Sang Khalik?
Lalu... Apa yang bisa kupersembahkan sebagai umat Baginda Rasulullah Saw..
hanya kau yang bisa menemaniku, wahai hafalanku...
Tak banyak... Tak sampai 30 Juz. tetapi aku ingin kau tetap di prefrontal cortex-ku
Aku ingin kau berputar-putar di otakku dan tak pergi meninggalkanku.
Seperti sahabatku yang satu demi satu pergi karena kesibukannya..
Aku ingin kau tetap menemaniku hingga nyawa ini tak lagi bersatu dengan raga..

Hafalanku...
Tak bisa dielakkan, rutinitas sebagai perempuan bekerja memakan waktuku dan mengurangi waktuku untukmu...
Tak bisa dielakkan, kesukaanku terhadap manga dan anime juga mengikis waktuku untuk bergelut denganmu...
Tak bisa dielakkan, istirahatku yang berkecukupan menyedot waktuku untuk bersama denganmu..
Namun, kemana pun dan bagaimanapun diriku, satu hal yang selalu membuatku kembal kepangkuanmu, yaitu kerinduanku.
Kerinduanku untuk bermesra dengan ayat-ayat dari langit...
kerinduan lidahku yang basah dengan lantunan lembut yang menghangatkan hati...
Kerinduanku dengan majelis-majelis yang selalu membahas surat cinta dari-Nya...
Rindu itu selalu bisa membuat tangan dan kakiku bergerak sendiri meraih mushaf yang lusuh itu...
Memantapkan diriku untuk tetap kembali kepadamu.. hafalanku...

Kepada hafalanku... walau imanku sering naik-turun seperti impuls darah yang mengalir...
Namun, setipis-tipisnya... Serendah-rendahnya, aku tetap ingin dapat bersamamu.. bersamamu.. melantunkan setiap ayat cinta yang akan selalu menghangatkan hati... seperti fajar yang menghangatkan embun pagi...

Kepada hafalanku... Kurangkul engkau hingga lidah ini kelu, hingga pikiran ini berhenti, dan hingga mata ini tak bisa terbuka kembali...


Sabtu, 19 September 2015

Hongkong Journey - Tiba di Hongkong International Airport




***
Sepertinya aku masih diberikan kesempatan untuk bernapas di dunia ini. Walau pesawat yang kutumpangi uring-uringan, tetapi Alhamdulillah, ia masih bisa mendarat dengar lancar di Hongkong International Airport (HIA) tepat pukul tiga pagi. 

Lampu kuning telah padam, yang berarti sabuk pengaman dapat kami lepaskan. aku langsung meraih tas selempang kecil yang sedari tadi ku pangku, kemudian berdiri dan langsung mengeluarkan tas ransel besar yang kubawa. 
Setelah turun dari pesawat, aku dan teman backpakerku pun bertemu kembali. Tetapi, kami perlu melalui beberapa loket imigrasi terlebih dahulu. Petugas imigrasi yang galak terlihat sigap dan cekatan memverifikasi setiap penumpang yang baru tiba.  Kami mengambil sebuah troli dan menunggu bagasi. Bagasiku? Bukan. tetapi bagasi teman backpakerku. Ia membawa sebuah koper besar berwarna biru. 
Kami pun berjalan menyusuri lorong ruangan. Tak lupa kami mengambil brosur peta Airport dan beberapa peta Hong Kong yang terpajang rapi di tiap sudut. Namun, ternyata itu tak membuat kami bisa segera menguasai lokasi. Bandara Hongkong yang luas dan memiliki gate dan lantai yang banyak membuat kami berputar-putar selama lebih dari 30 menit. Hingga sampailah kami di lobby bandara.
Pukul setengah empat pagi, kami memutuskan untuk beristirahat di lobby bandara. Di tengah lobby dekat dengan eskalator terdapat sebuah taman yang sisi-sisinya ditembok rendah sehingga kami bisa duduk dan beristirahat sejenak.
Sementara aku, sejak pesawat mendarat di bandara ini, hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah : Dimana aku bisa melaksanakan SHOLAT SUBUH? Itulah yang membuatku gelisah. Walaupun waktu subuh belum tiba, aku setidaknya harus sudah bisa menemukan lokasi untuk sholat. Aku tidak tahu di bandara yang besar dan luas ini apakah ada mushola atau tidak. Tapi sepanjang tadi kami berkeliling mencari lokasi keluar yang terdekat dengan stasiun bus, aku tidak menemukan tanda adanya mushola. Akhirnya, waktupun terus berlalu hingga tepat pukul 5 pagi. Aku akhirnya memutuskan untuk mencari mushola sendiri. Ku titipkan barang-barangku ke temanku. Kemudian dengan PD-nya aku berjalan sendiri dan mencoba naik eskalator sambil berharap ada mushola di atas sana.

"Excuse me, where can i found prayer room ??" tanyaku kepada petugas yang lewat.

"Sorry, No english" Jawab kedua pemuda yang jelas-jelas mengenakan seragam petugas bendara sambil menyilangkan kedua tangannya.

 "Oke" jawabku singkat. Terheran, atau mungkin terkejut. Gila, bandara sebesar ini, se-International ini masa gag mau meladeni turis yang menggunakan bahasa inggris. Ah, sudahlah, aku segera menepis pikirank. Kemudian, kembali bertanya pada petugas yang lain. Dan ... jawaban mereka seperti bisa di tebak. Yang satu hanya menjawab :

"Just follow the sign"

Errrggh... kalau aku sudah menemukan tanda Prayer Room, untuk apa aku capek-capek nanya Om.. , batinku.

Hampir frustasi, akhirnya aku memutuskan untuk mencari orang yang berjilbab, setidaknya pasti ia juga mencari tempat sholat sepertiku. Allah sekali lagi menolongku. Bukan sekali, bahkan sudah sangaaaaat sering banget. Alhamdulillah, mataku menangkap seorang ibu-ibu yang membawa tas pinggang tengah berdiri entah menunggu apa di ruangan tengah. Ia menyadari kehadiranku.

"Permisi Bu, orang Indonesia ?" aku langsung menyapanya.
"Ouh, iyo mb" Jawabnya dengan logat Magelang yang kental banget.
"Ibu tahu dimana bisa sholat subuh?"
"Ouh, cari mushola ya, mbak? Sini-sini sebelah sini."

Dengan sigap ibu itu langsung mengantarkanku menuju prayer room yang terletak di sudut ruangan.

"Sudah tukar dolar hongkong belum, mb? Kalau belum, saya punya. Mbak bisa tukar di saya" tawar si ibu.
"Ouh, sudah Bu. Saya langsung tukar pas di Indonesia" Jawabku pelan.
"Ouh, begitu. Nanti kalau kurang, mbak tukar di saya saja. Saya setiap hari ada di sini" Kata Si Ibu sambil menunjuk sebuah ruangan di sudut lorong tempat kami berjalan.

Aku hanya mengangguk seraya berjalan masuk ke ruangan yang bertuliskan "prayer room".
Di dalamnya tampak sebuah ruangan yang luas. Di sudut kiri terdapat patung Budha, kemudian sedikit sekat ke arah depan terdapat tanda salib, kemudian tersekat lagi terdapat patung nabi Isa tertempel di dinding. Empat buah kursi berjejer menghadap tembok itu. Terlihat dua orang dengan wajah oriental tengah khusyuk membaca al kitab. Kehadiranku seperti tak mengusik keduanya. kemudian di sebelah kanan terdapat garis putih pembatas dengan sebuah sajadah membentang dengan tulisan kiblat di depannya. Satu ruangan yang komplit. Semua keyakinan ada di sini.
Di sebelah pintu masuk, terdapat leaflet tentang keyakinan yang ada di Hongkong.
Aku penasaran. Akhirnya kuputuskan mengambil sebuah leaflet dan ternyata pada leaflet itu tercantum lokasi-lokasi tempat ibadah semua keyakinan yang dianut oleh penduduk Hong Kong.
Lokasi Masjid sangat lengkap beserta deskripsinya. Terlihat dari fasilitas yang diberikan, pemerintah Hong Kong benar-benar memperhatikan kebutuhan penduduknya dengan sangat baik.

Mari kita tengok tempat wudhu yang berada di balik ruangan sebelah kanan, tersekat oleh sebuah tembok yang terbuka. Ornamen batu membuat tempat wudhu terlihat sangat sejuk. Terdapat tempat duduk untuk berwudhu yang disediakan tepat di depan air keran pancuran.

Selasa, 30 Juni 2015

Trailer Full Boruto (Naruto The Movie)

Di antara beberapa manga dan anime yang saya ikuti, mungkin manga Naruto-lah yang paling berkesan. Sejak duduk di kelas 2 SMA, diperkenalkan oleh dua teman saya yang sedikit gokil, akhirnya manga dan anime karya Masashi Kisimoto ini saya ikuti sampai dengan sekarang.
Saya langsung tertarik dengan manga ini setelah menonton versi animenya, yaitu ketika naruto dan sasuke bertarung di Valley of The End. Ya, saya tertarik padahal hanya menonton tengah episodenya saja, bukan episode yang awal.

Semenjak Naruto dan Sasuke kecil hingga sekarang mereka telah menjadi bapak-bapak, saya tak pernah bosan menunggu update-an ceritanya. Yap, berikut trailer lengkap Movie Boruto Naruto The Movie yang saya tempelkan diri youtube .




Film ini akan tayang pada tanggal 7 Agustus 2015 di Jepang. Daaan.... masih menunggu lama lagi untuk bisa mendapatkan bluray terjemahan english di  Indonesia.

Senin, 29 Juni 2015

Hongkong Journey - Di Dalam Pesawat


Kursi No. 4 baris kedua dekat dengan jendela adalah kursi yang sengaja ku pilih. Aku pun langsung duduk setelah melalui beberapa gate yang panjang. Sabuk pengaman telah kupasangkan.
Aku memandangi penumpang yang satu persatu melewati kursiku. Teman Backpakerku pun melintas, dan menunjukkan nomor kursinya, 29, jauh di belakangku.  Sampai akhirnya penumpang terakhir pun sudah masuk. Dan ternyata dua kursi di sebelahku masih kosong, tak ditempati.
Sembari mendengarkan demo yang diperagakan oleh pramugari, aku pun mulai berdo'a agar perjalanan ini dilancarkan.

Berangkat tepat pukul sepuluh berarti sampai di Hong kong sekitar pukul 3 pagi. Penerbangan selama lima jam adalah penerbangan terlama yang pernah aku lakukan.Apa yang akan aku lakukan selama itu. Tidur saja, Ah, batinku.

Harapanku aku bisa tertidur pulas sehingga ketika sampai di Hongkong nanti, aku sudah siap berpetualang. Tapi itu hanya harapanku. Tidur nyenyak hanya bisa kurasakan selama 2 jam, itu pun 1 jam ketika pesawat tengah mengantre untuk lepas landas.
Ketika telah Take off, ternyata kami telah disambut dengan cuaca yang kurang bersahabat. Turbulance yang keras serta kilatan-kilatan cahaya petir yang terlihat dari balik jendela.

Hahaha... selamat tinggal tidur yang nyaman. dan Welcome to the real jungle, berasa seperti antara hidup dan mati. Getaran yang terus menerus. Sampai beberapa pengumuman disampaikan untuk tetap berada di kursi penumpang.

Aku sangat mengantuk, dengan kondisi cuaca hujan yang seperti itu, getaran yang seperti itu, aku tetap saja mengantuk. Bahkan aku seperti sudah pasrah. Jika memang di sini adalah takdirku, maka memang harus kuterima. Tapi, apa bekalku sudah cukup.. ??

- Bersambung-

Minggu, 26 April 2015

Hongkong Journey - Keberangkatan di Bandara

Ini bukan kali pertamanya aku pergi ke luar negeri. Tetapi, ini pertama kalinya aku pergi sendirian alias travel alone alias single backpacker. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, aku akan pergi sendirian. Tetapi seperti biasa, jiwa nekadku berkata aku harus pergi.
Dengan berbekal satu tas ransel dan tas tangan yang ku pinjam dari salah satu sahabatku, aku pun mantap berangkat dari Jl. Otista Raya menuju Bandara Soekarno Hatta. Sepanjang perjalanan dengan bus damri, aku memandangi jalan tol Jakarta yang padat di arah sebaliknya.
Bismillah, Ya Allah lindungilah Hamba, batinku.
Pada saat seperti itu tak ada yang bisa kuandalkan selain Allah SWT, Sang Maha Kuasa atas segalanya.
Damri yang kunaiki akhirnya merapat ke Terminal 3. aku langsung bergegas turun dan berlari menuju counter check in. dengan nafas terengah aku menyebutkan tujuan penerbanganku.
"Baiq Rini, ke Hong kong"
dan sepertinya petugas counter sudah menungguku. hahaha... sepertinya aku satu-satunya penumpang pesawat yang masih belum check in untuk penerbangan ke Hong kong. tanpa ba bi bu, petugas itu langsung mengarahkanku untuk segera menuju gate.
"tidak ada bagasi kan, mb?"
"gag, gag ada.."
"tiket balik, sudah ada?"
"Aaakh, saya belum print".
petugas itu langsung memberikanku struk.
"ini mbak, jangan sampai hilang, nanti gag bisa balik"
"haha.. terima kasih"

aku langsung berhamburan, berlari, marathon menuju gate yang ditunjukkan. Ada beberapa pintu migrasi yang harus kulalui. dan sampailah di pintu pemeriksaan terakhir.
 Semoga botol minumku lolos dalam pemeriksaan ini, harapku. belum selesai aku membatin, ternyata petugas bandara langsung menawarkan pilihan.
"Maaf, Mbak. Air minumnya tidak  boleh dibawa. Tolong dihabiskan di sini atau kami yang menyitanya."
"Hhh... baiklah" jawabku.

Nekad mencoba membawa botol minum tupperware isi 500 ml menempel di ranselku untuk persediaan selama di pesawat, ternyata gagal. Al hasil, daripada air minum sayang jika dibuang, maka aku pun mencoba menghabiskannya, setengah liter habis. bayangkan betapa penuhnya perutku dengan air.

Masih meneguk air di botol, mataku pun jatuh pada seorang calon penumpang yang bernasib sama dengan ku. sama-sama mencoba menghabiskan air putih. kami saling tersenyum. Kemudian, aku membuka pembicaraan.

"Mau Ke hong kong juga?" tanyaku.
"Iya, gue juga ke hongkong, take off jam berapa?"jawabnya.

"Jam 9 malam" jawabku singkat.
"Wah, sama. jam 9 juga"

"Bareng rombonganya?" sambungku
"Gag. Gue berangkat sendiri, backpaker-an."
"Ouh, sama. Saya juga berangkat sendiri" 

Obrolan kami pun berlanjut sambil berjalan menuju ruang tunggu. Perkenalan singkat belum dilakukan., tetapi kami sudah sibuk membahas tentang perjalanan setibanya di bandara Hongkong. Nasib solo backpaker membuat kami seolah seperti bertemu teman lama yang memiliki tujuan yang sama. Dan sama-sama baru pertama kali ke Hong Kong juga.

"Di Hongkong tinggal di mana? sudah dapat hostel?"
"Saya sudah booking di Chungkin Mansion, di Nathan Road"
"Gue dapet di Alhambra Building, alamatnya di Nathan Road juga"

"Ya udah, kita bareng aja ke sananya" Tawarku.
"iya, bareng aja." jawabnya setuju.

Yak, diskusi singkat membuat kami sepakat untuk bareng-bareng menuju penginapan/hostel.

Pengumuman yang disampaikan oleh seorang petugas gate mengakhiri obrolan kami. Penerbangan ditunda selama 1 jam ke depan. Satu jam adalah waktu yang lama untuk menunggu. Beberapa penumpang pun sibuk dengan ponselnya masing-masing untuk membunuh waktu yang terbuang, tak terkecuali denganku.
Aku sibuk mengecek catatanku. Lokasi makanan halal, lokasi masjid, serta alternatif transportasi dari bandara menuju nathan road sudah di tangan. Tinggal browshing-browshing beberapa info terkait Hong Kong yang lain. 

Tepat pukul 10 malam, pesawat kami pun akhirnya dapat dipersiapkan keberangkatannya.

-Bersambung-

Kamis, 30 Oktober 2014

Begini Salah Satu Praktek Kecil Korupsi di Pelayanan Masyarakat

Pak Polisi : "Ini kartu tanda sidik jarinya, sudah selesai. Tinggal di fax ke Polres di daerah" sapa polisi itu ramah.
Saya mengangguk tanda mengerti.

"Administrasi seikhlasnya ya, mbak" lanjut polisi itu.

Ungkapan yang mengandung arti berbeda ini membuat saya teringat dengan seminar yang diadakan KPK beberapa hari yang lalu di kantor. Kemudian dengan senyuman yang tak kalah ramahnya, saya pun berkata,

"kwitansinya ada kan, Pak"

"nggak ada" jawab polisi itu sambil menggeleng kan kepalanya. Kemudian melanjutkan ucapannya

"..... nggak juga gak apa-apa"

"OK, terima kasih" jawab saya dengan senyum yang lebih lebar lagi, kemudian meraih kartu sidik jari tersebut dan berlalu begitu saja.

Dan saya tersadar raut ramah polisi itu semakin jauh terlihat semakin memudar.

Huff... Negaraku... kapan praktik "administrasi liar" seperti ini bisa dihentikan. Jika setiap mengurus surat-surat catatan sipil harus membayar di setiap jenjang proses pengurusan.

Semoga tidak membudaya. Jika saya memberikannya, tentu saya bagai menabur pupuk di tanaman liar bernama korupsi.

-RN-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop
;